Rabu, 10 September 2014

PRAKTIKUM FISIKA KELAS XI SEBELUM TENGAH SEMESTER 2014

A. Gerak Melingkar
     1. Gaya Sentripetal
         Gaya sentripetal adalah gaya yang membuat benda untuk bergerak melingkar. Gaya ini bukan
         merupakan gaya fisis, atau gaya dalam arti sebenarnya, melainkan hanya suatu penamaan atau
         penggolongan jenis-jenis gaya yang berfungsi membuat benda bergerak melingkar.

         DOWNLOAD PETUNJUK PRAKTIKUM


     2. Hubungan Roda - roda


         Ketika dua roda kita hubungkan dengan sebuah rantai, maka kedua roda tersebut akan memiliki 
         kecepatan linier yang sama (sama dengan kecepatan gerak rantai). Tidak hanya besar kecepatan 
         liniernya yang sama tapi juga arah dari gerakan roda. Dalam hubungan roda ini yang berbeda adalah 
         kecepatan sudutnya.
         Kecepatan Linier Roda A = Kecepatan Linier Roda B
 
       DOWNLOAD PETUNJUK PRAKTIKUM

B. Gerak Parabola


     Gerak parabola merupakan gerak benda yang mempunyai lintasan berbentuk parabola.  Gerak parabola 
     merupakan gabungan antara gerakan benda secara horizontal (mendatar) dan vertical (ke atas atau ke 
     bawah)
     Gerak parabola selalu dipengaruhi oleh sudut elevasi (αo) dan percepatan gravitasi bumi (g = 9,8 m/s2). 
     Ketika bergerak dengan kecepatan tertentu (vo), peluru/proyektil akan mencapai tinggi maksimum (h
     dan akhirnya jatuh dan mencapai jarak jangkauan terjauh / maksimum (R).  

    

Senin, 18 Agustus 2014

HUKUM HESS



Hukum Hess adalah sebuah hukum dalam kimia fisik untuk ekspansi Hess dalam siklus Hess. Hukum ini digunakan untuk memprediksi perubahan entalpi dari hukum kekekalan energi (dinyatakan sebagai fungsi keadaan ΔH).

Penjelasan
Menurut hukum Hess, karena entalpi adalah fungsi keadaan, perubahan entalpi dari suatu reaksi kimia adalah sama, walaupun langkah-langkah yang digunakan untuk memperoleh produk berbeda. Dengan kata lain, hanya keadaan awal dan akhir yang berpengaruh terhadap perubahan entalpi, bukan langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapainya.
Hal ini menyebabkan perubahan entalpi suatu reaksi dapat dihitung sekalipun tidak dapat diukur secara langsung. Caranya adalah dengan melakukan operasi aritmatika pada beberapa persamaan reaksi yang perubahan entalpinya diketahui. Persamaan-persamaan reaksi tersebut diatur sedemikian rupa sehingga penjumlahan semua persamaan akan menghasilkan reaksi yang kita inginkan. Jika suatu persamaan reaksi dikalikan (atau dibagi) dengan suatu angka, perubahan entalpinya juga harus dikali (dibagi). Jika persamaan itu dibalik, maka tanda perubahan entalpi harus dibalik pula (yaitu menjadi -ΔH).

Kamis, 16 Januari 2014

FISIKA 2014

UNTUK MATERI UJIAN PRAKTIKUM FISIKA TERPAKSA TIDAK SAYA CNATUMKAN MATERINYA TAPI HANYA JUDUL MATERINYA SAJA YAITU :

1. ALAT UKUR
    Berisi tentang beberapa alat ukur dasar dan cara menggunakannya

2. MEKANIKA BANDUL SEDERHANA
    Tentang cara menentukan gravitasi pada suatu tempat dengan teknik bandul sederhana

3. FOKUS LENSA
    Tentang cara menentukan fokus suatu lensa

4. LISTRIK SEDERHANA (RESISTOR)
    Tentang mengukur hambatan suatu resistor dengan menggunakan Multimeter, dan
     menghitung nilai hambatan suatu resistor dengan cara membaca cincin warna pada tiap resistor
     Pedoman dan cara menghitungnya dapat di dapatkan disini

Rabu, 08 Januari 2014

KUMPULAN MATERI PRAKTIKUM YANG MASUK DALAM UJIAN PRAKTEK 2014

Berikut ini adalah beberapa materi Praktikum yang masuk dalam ujian praktek biologi tahun 2014 :

Kumpulan materi

Bersama ini juga di sampaikan kunci determinasi yang pernah digunakan dalam praktikum :

Contoh Ringkasan kunci determinasi buatan

Selasa, 31 Desember 2013

banner_ud125x125bru.gif  banner_ud468x60.jpg   banner_ud125x125mrh.gif

MATERI PRAKTIKUM KIMIA KELAS XII TAHUN 201 2014

Berikut ini saya sampaikan materi Praktikum Kimia semester 2 kelas XII IPA, materi ini merupakan materi yang digunakan daslam ujian praktek

Dalam pelaksanaanya siswa langsung mengerjakan laporan pada lembar tersebut dsan laporan lengkap dikumpulkan sebagai syarat mengikuti ujian praktek Kimia 2014


KISI - KISI UJIAN PRAKTEK MATA PELAJARAN IPA TAHUN 2014

Untuk melihat (view) dapat menggunakan link berikut :

Kisi kisi BIOLOGI

Kisi kisi KIMIA

Untuk download bisa di dapatkan di link download berikut :

Kisi - kisi KIMIA

Kisi - kisi BIOLOGI

Senin, 30 Desember 2013

UJIAN PRAKTIKUM MATA PELAJARAN IPA TAHUN 2014

Berdasar hasil rapat dan POS UN 2014, ujian praktikum tidak mendapatkan waktu khusus dalam pelaksanaanya.
Oleh karena itu ujian praktek akan dilaksanakan pada jam aktif KBM ( jam belajar rutin harian)

KISI KISI DAN WAKTU PELAKSANAAN AKAN DI SAMPAIKAN MENYUSUL

Sabtu, 06 April 2013

HERBARIUM


LEMBAR KERJA SISWA
Judul                           :    Membuat Herbarium
Standar Kompetensi   :   Memahami manfaat keanekaragaman hayati
 Kompetensi Dasar     :  Mendeskripsikan ciri-ciri Divisio dalam Dunia Tumbuhan dan Hewan serta peranannya bagi kelangsungan hidup di Bumi 
I.         HERBARIUM KERING
A.       Dasar Teori
Herbarium adalah sampel tumbuhan yang dikeringkan. Herbarium berguna di dalam pengenalan dan identifikasi jenis-jenis tumbuhan. Herbarium yang baik adalah yang memuat bagian-bagian tumbuhan yang representatif, yaitu organ-organ yang penting untuk identifikasi. Pada tumbuhan tingkat rendah organ-organ tersebut adalah spora atau kumpulan-kumpulan spora dan bagianbagian tertentu yang spesifik. Sedangkan untuk tumbuhan tingkat tinggi, bagian-bagian tersebut berupa bunga, buah, dan biji karena dasar klasifikasi tumbuhan tersebut adalah struktur bunga. Karenanya sampel yang berupa bunga adalah syarat utama untuk berhasilnya identifikasi sampai ke tingkat suku atau spesies. Sedangkan organ-organ lain seperti akar, batang, dan daun sifatnya adalah tambahan.

B.       Tujuan
Membuat herbarium kering untuk mengenal berbagai jenis tumbuhan.
C.       Alat dan Bahan
1.    Herbarium kit, meliputi ;
a.       Sasak (pengepres) berupa anyaman bambu atau papan serta kertas koran dan potongan kardus seukuran kertas A3, (lihat lampiran gambar 1.)
b.      Gunting atau pisau,
c.       Etiket gantung (untuk mencatat keterangan sampel ketika diperoleh di lapangan),
d.      Etiket gantung (untuk mencatat keterangan pada kertas herbarium).
2.    Tripleks atau Kertas karton ukuran A3
3.    Selotip dan lem
4.    Pensil dan pulpen
5.    Formalin 4% dalam alkohol 70 %

D.    Cara Kerja
1.      Ambillah sampel, berupa bagian-bagian tumbuhan yang representatif (bunga, buah, dan biji). Bisa juga ditambahkan bagian-bagian lain yang mendukung misalnya daun, akar, dan batang yang memiliki perawakan yang khas.
2.      Letakkan sampel tersebut di atas kertas koran, kemudian dipres dengan sasak.
·      Cara pengepresan adalah bagian paling bawah berupa sasak kemudian disusul dengan potongan kardus dan kertas koran di atasnya. Setiap sampel diberi pembatas berupa kertas koran, potongan kardus digunakan untuk membatasi setiap lima sampel. Satu set herbarium kit dapat digunakan untuk mengepres sampai 30 sampel, menyesuaikan dengan ukuran sampel-sampel tersebut.
·      Untuk menghindari tumbuhnya jamur pada sampel-sampel tersebut dapat dilakukan dengan menyemprotkan formalin atau alkohol.
·      Jangan lupa untuk memberikan etiket gantung pada setiap sampel, yaitu berisi keterangan mengenai nomor koleksi, tanggal pengambilan sampel, lokasi, dan nama jenisnya. Penulisan keterangan tersebut dilakukan dengan pensil.
3.      Keringkan sampel-sampel tersebut dengan dijemur tau dikeringanginkan. (sampel masih dalam keadaan dipres dengan sasak).
4.      Setelah tiga hari, umumnya sampel-sampel tersebut sudah cukup kering. Keluarkan sampel-sampel tersebut untuk ditempelkan pada kertas herbarium (A3).
5.      Sampel yang telah dikeluarkan dari sasak harus segera ditempelkan pada kertas herbarium dengan hati-hati.
·         Bagian sampel yang akan direkatkan dengan selotip terlebih dahulu diberi sepotong kertas agar bagian lem dari selotip tidak bersentuhan langsung dengan sampel.
·         Apabila sampel terlalu besar untuk ditempelkan pada kertas A3, sampel dapat dilipat atau dipotong pada bagian-bagian tertentu dengan hati-hati sehingga tidak menghilangkan ciri-cirinya.
6.      Lengkapi herbarium tersebut dengan etiket tempel yang berisi keterangan mengenai tanggal, habitatnya, klasifikasi tumbuhan tersebut dan catatan khusus (nama daerah, manfaat).
·         Penulisan keterangan tersebut dilakukan dengan pulpen. Etiket ini ditempelkan pada pojok kanan bawah dengan sedikit lem pada sisi kanannya.
7.      Kumpulkan herbarium dari berbagai jenis tumbuhan (lumut, paku, dan tumbuhan berbiji (tumbuhan obat/herbal)), dengan komposisi minimal satu spesies untuk tiap jenis tumbuhan.
8.      Kumpulkan pekerjaan kalian sebagai pelengkap laboratorium sehingga dapat digunakan untuk kegiatan belajar selanjutnya.


LAMPIRAN GAMBAR

1.      Beberapa contoh jenis sasak

2.      Contoh herbarium kering yang telah selesai proses pembuatannya 

  

SKEMA SINGKAT PEMBUATAN HERBARIUM KERING
Dalam proses belajar, siswa menempuh langkah-langkah berikut:
  1. Membuat dua buah sasak bambu untuk alas dan penutup (Gambar 1);
  2. Membuat etiket gantung dari kertas manila (yang cukup untuk tulisan nomor koleksi, nama tanaman, dan tanggal pengambilan tanaman) yang dilubangi di sudut kiri atas;
  3. Memilih tanaman yang bagus dan mempunyai bagian tanaman yang lengkap (Gbr. 2);
  4. Mencabut tanaman secara hati-hati agar bagian tanaman khususnya akar tidak rusak lalu mencatat nama dan tempat pengambilan tanaman tersebut (Gbr .3);
  5. Mencuci tanaman hingga bersih dan dikeringkan beberapa saat (Gbr. 4);
  6. Menuliskan nama tanaman pada etiket gantung kemudian menempelkannya pada tanaman diikat dengan kenur (Gbr. 6);
  7. Mengamati dan mencatat ciri-ciri tumbuhan tersebut (Gbr. 5);
  8. Menata tanaman di atas sasak yang dilapisi koran sebagai pembatas antara tanaman satu dengan lainnya (Gbr .5);
  9. Setelah tanaman tertata rapih, siswa menutupnya dengan sasak kedua kemudian diikat dengan tali rapia (Gbr. 7);
  10. Setelah tanaman kering, siswa menempelkan tanaman itu di atas kertas manila dengan bantuan plester bening (Gbr. 8);
  11. Siswa menyimpan tanaman di tempat yang tidak terkena matahari langsung (Gbr. 9)
  12. Siswa menambahkan keterangan mengenai tanaman pada kertas manila yang ditulis dengan etiket tempel (Gbr. 9);
  13. Apabila ada biji atau bagian tanaman yang rontok diletakkan di dalam amplop lalu ditempelkan dekat tanaman tersebut;










II.      Herbarium basah
Herbarium basah biasa digunakan pada pengawetan hewan kecil (invertebrata). Sedangkan tumbuhan yang diawetkan dengan cara dibuat herbarium basah adalah tumbuhan yang jika dikeringkan maka akan merusak bentuknya, misalnya untuk tumbuhan lumut dan rumput laut.
A.       Alat – alat yang diperlukan untuk teknik  pembuatan Herbarium basah (lumut) : 
1.    Botol bekas yang terbuat dari kaca dan tidak ada lekukan (botol nercafee, botol selai )
2.    Spesimen Lumut (mis: Marchantia);
3.    Formika (jika tidak ada dapat diganti dengan mika, namun usahakan mika tidak terlalu lentur);
4.    Larutan pengawet (FAA : Formalin, Alkohol, Asetat + CuSO4)
5.    Bor Listrik Kecil;
6.    Senar Pancing;
7.    Gunting;
8.    Sekop untuk mengambil spesimen;
9.    Spidol.

B.     Langkah Kerja:
1.      Eksplorasi tempat yang di duga terdapat spesimen Marchantia, kemudian ambil dengan menggunakan sekop secara hati-hati. Ingat: Spesimen yang akan diawetkan harus terdapat organ lengkap dan utuh serta tidak cacat. Organ yang harus ada meliputi: gemma cup, sisik dan rhizoid, arkegoniofor dan anteridiofor;
2.      Bersihkan kotoran dan tanah yang terdapat pada spesimen yang akan di awetkan dan hati-hati terhadap organ yang penting agar tidak rusak;
3.      Kemudian potong formika dengan gunting dan sesuaikan ukurannya dengan bagian dalam botol. usahakan formika yang telah di potong dan ketika dimasukkan ke dalam botol tidak mudah bergerak ke samping (harus rapat);
4.      Tempatkan posisi penempelan spesimen dan tandai dengan spidol. Dalam penempatannya dibutuhkan estetika agar spesimen yang diawetkan nampak bagus dan pemanfaatannya sebagai media pembelajaran bisa terlihat begitu juga dengan organnya. Tunjukkan organ gemma cup beserta thallusnya, Anteridiofor, Arkegoniofor dan sisik beserta rhizoid;
5.      Lubangi formika yang telah ditandai dengan bor;
6.      Ikat spesimen dengan senar pancing pada formika yang telah dilubangi secara hati-hati agar organ yang ingin ditunjukkan tidak rusak;
7.      Kemudian isilah botol dengan larutan pengawet sampai penuh dan tutuplah botol dengan rapat;
8.      Awetan basah Lumut siap digunakan. jika sudah jadi, maka awetan tersebut terlihat seperti gambar di bawah.
  

Download file LKS format docx. klik disini 
Download file LKS format pdf. klik disini